Hukum Kisah-Kisah Palsu PDF Cetak E-mail
Font Size Larger Font Smaller Font
Wednesday, 11 Jamadil Awal 1430
Dalam pengajian-pengajian umum, terkadang sering dijumpai seorang mubalig atau penceramah yang membawakan kisah-kisah penuh hikmah dan menyentuh, namun ternyata kisah-kisah tersebut palsu.
 
Bagaimanakah hukum kisah-kisah palsu tersebut? Berikut ini  penjelasan Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari, (karena keterbatasan halaman, penjelasan beliau kami ringkas-red).

AL-QURAN DAN AS-SUNNAH ADALAH SUMBER PERBAIKAN HATI

Kita, kaum muslimin, harusnya tidak menulis atau tidak menyampaikan ceramah maupun khutbah, kecuali berisi ayat-ayat al-Quran, hadits-hadits yang shahih, dan kisah-kisah yang benar. Tidak perlu membawakan hadits-hadits yang dhaif (lemah), maudhu' (palsu), dan kisah-kisah batil. Dalam hal ini Allah memperingatkan, “Maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya.” (Al-Jaatsiyah: 6)

Memang, terkadang cerita-cerita palsu bisa mengguratkan pengaruh bagus kepada pendengarnya. Akan tetapi, hanya bersifat temporer (sementara). Ini mengingatkan kita kepada kisah yang diriwayatkan dari Imam Ahmad. Beliau pernah ditanya tentang Al
-Harits Al-Muhasibi, hukum menimba ilmu darinya, dan mendatangi majelisnya. Imam Ahmad memilih untuk langsung mendatangi majelis Al-Harits bin Al-Muhasibi untuk mencari tahu. Beliau tidak duduk di bagian depan Al-Harits, tetapi menyembunyikan diri di balik penutup.

Dari situ, beliau mendengar ceramah. Murid-murid menjumpai Imam Ahmad. Tak disangka, kedapatan air matanya bercucuran. Meski demikian, beliau melarang para murid untuk mengambil hadits dari Al-Harits. Begitulah, ceramah Al-Harits hanya mempermainkan perasaan, mempengaruhi emosi saja. Bukan lantaran tersulut oleh pengaruh yang syar’i, yaitu melalui al-Quran dan as-Sunnah.

Menilik fenomena kisah-kisah palsu ini, terdapat pula contoh mubaligh yang tidak hanya mengisahkan cerita-cerita palsu produk zaman dulu, tetapi juga berperan sebagai kreator cerita, dengan tujuan untuk mengingatkan dan melembutkan hati manusia. Kaidah-kaidah--bahwasanya al-Quran dan as-Sunnah merupakan rujukan utama untuk menarik hati manusia--tidaklah banyak diketahui orang.

Kalaupun ada yang mengetahuinya, tidak terlalu menekankannya. Bahkan, ada yang sengaja menyembunyikan masalah ini. Berbeda dengan ahlus sunnah, yang memegang manhaj salaf. Urusan-urusan mereka sangat jelas, saling memberi nasihat dengan hal-hal yang berdasarkan pada kebenaran. 

Kesimpulannya, kita tidak boleh menyebutkan, baik dalam mengajar, khutbah, ceramah, maupun tulisan, kecuali nash-nash (dalil) yang telah pasti dan hadits-hadits yang shahih.

HAKIKAT MAU’IZHAH
Sebagian orang yang berasumsi bahwa mau’izhah (lebih dikenal oleh masyarakat kita dengan mau’izhah hasanah-pent) hanya berbentuk menyajikan kisah-kisah semata, untaian kata yang mampu melembutkan dan mengharukan hati. Padahal, Allah menyatakan 
tentang Luqman dalam firman-Nya, “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi mau'izhah (nasihat) kepadanya, 'Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.'.” (Luqman: 13)

Ayat tersebut menyebutkan bahwa inti nasihat adalah pembicaraan tentang tauhid. Dalam hadits Al-Irbadh bin Sariyah, Rasulullah  bersabda, “Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada penguasa, walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak hitam. Sesungguhnya orang yang hidup (panjang) dari kalian akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka, kewajiban kalian adalah berpegang teguh pada sunnahku (tuntunanku).” (Riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Dengan memperhatikan hadits di atas, ternyata mau’izhah (hasanah) itu berupa pesan ketakwaan (tauhid), pembicaraan tentang manhaj, dan perintah memegang sunnah. Jadi, penceramah sejati ialah orang yang melembutkan hati manusia dengan dakwah kepada 
tauhid dan berpegang teguh dengan sunnah (tuntunan Rasulullah), membersihkan hati mereka dengan al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah, serta biografi generasi salafush shalih, juga mengajak hati mereka menuju cara pemahaman Islam yang benar (manhaj shahih). Bukan dengan cara membawakan kisah-kisah yang lemah, maupun kata-kata yang dibuat-buat dan jauh dari cahaya al-Quran dan as-Sunnah.

PERINGATAN ULAMA TERHADAP MUBALIGH-MUBALIGH YANG MENGUSUNG CERITA-CERITA PALSU
Keberadaan mubaligh yang membawakan kisah-kisah palsu telah diperingatkan oleh ulama dalam kitab-kitab mereka. Orang-orang yang ceramahnya berisi cerita-cerita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan ini tetap selalu ada di tengah masyarakat. Namun masa popularitas mereka tidak bertahan lama, karena modal yang mereka miliki tidaklah banyak, sehingga pengaruh mereka pun hanya sementara.

Berbeda dengan ulama-ulama rabbaaniyyun, pengaruh positif dari mereka tetap bertahan, mereka pun masih eksis, dan nama mereka selalu dikenang di tengah masyarakat. Sekilas, saya terkadang menyaksikan seorang mubaligh yang sedang berdoa di televisi. Melalui caranya memanjatkan doa, seakan-akan ia sedang memainkan peran dalam sebuah sandiwara, memejamkan mata, mencucurkan air mata, hingga tidak tampak sedang berdakwah. Adapun seseorang yang benar-benar memiliki bekal ilmu agama, ketika ia berbicara, maka kandungannya adalah ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah n yang shahih. Wallaahu a’lam.

Disalin dari Majalah As-Sunnah, Edisi 01/Tahun XII/1429 H/2008 M. 

Terakhir Diperbaharui ( Saturday, 14 Jamadil Awal 1430 07:21 )
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
+/- Comments
Add New Search

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."